Jangan Khawatir, Aku Selalu Ada Untuk Mu
Chacha, begitulah orang-orang memanggilku. Aku seorang gadis berumur 12 tahun dan masih duduk di bangku kelas 6 di SD Rainbow Smart di Jakarta. Rupaku? menurutku aku tidak begitu cantik. Aku mempunyai seorang sahabat yang bernama Viona. Segi ekonomi keluarganya pas-pasan. Di sekolah anak berambut keriting itu sering diejek teman-teman sekelasku. Terutama Tiara, Mila, dan Riska. Mereka bertigalah yang paling membenci Viona. Tapi Viona tetap tabah dan sabar. Ia sama sekali tidak marah dan melawan. Tetapi walaupun begitu, aku harus tetap ada untuknya dan melindunginya.
Pagi ini hari Senin. Sebelum berangkat sekolah, aku terlebih dahulu menjemput Viona di rumahnya yang sederhana. Aku akan berangkat bersamanya.
“Sudah siap, Viona?” kataku sambil merangkulnya.
“Sudah, ayo kita berangkat! nanti upacaranya keburu mulai loh!” ajak Viona.
“Oke, ayo” balasku. Kami berdua pun beranjak bergegas menuju sekolah.
Sampai di sekolah, upacara masih belum dimulai.
“Huufft.. untung aja belum mulai ya upacaranya, Cha!” ujar Viona dengan napas yang masih ngos-ngosan.
“Iya soalnya kita tadi lari-lari sih. Jadinya belum mulai, masih kepagian.” jawabku. Beberapa menit kemudian, upacara pun dimulai. Aku dan Viona segera berbaris dengan teman-teman sekelasku.
Oh! ternyata Tiara, Mila dan Riska berbaris di belakangku dan Viona. Aku bisa menebak, pasti nanti ketiga pengejek itu akan mengganggu Viona. Benar saja, ketika upacara tengah dilaksanakan, Tiara melepas topi Viona dan menjatuhkannya ke bawah. Mila dan Riska tertawa kecil melihat itu. Viona segera mengambil topinya kembali.
“Hey Tiara! kamu bisa nggak sih enggak ngganggu Viona?! Kalau lagi upacara tuh harus diem! jangan rame!” nasihatku kepada Tiara.
“Suka-suka aku dong! lagian si Viona tuh anak orang miskin!” ucap Tiara.
“Eh kamu jangan menghina orang dong!” tuturku.
“Sudahlah, Cha! Tak apa. Nanti ketahuan Bu Ningsih loh!” ujar Viona lembut sambil tersenyum. Akhirnya, aku dan Tiara kembali diam.
Semakin lama sinar matahari semakin terik saja. Sampai-sampai Viona memegangi kepalanya karena merasa pusing sepertinya.
“Kamu kenapa, Viona? pusing? wajahmu pucat!” tanyaku khawatir.
“Iya nih, Cha. Pusing banget” keluhnya. Tak berapa lama kemudian Viona jatuh pingsan. Semua orang melihatnya.
“Viona, Viona!” teriakku memecah keheningan. Aku dan Bu Ningsih segera membopongnya ke UKS. Sayup-sayup aku mendengar suara Tiara, Mila, dan Riska dari kejauhan yang sedang membicarakan Viona.
“Ih gitu aja pingsan. Lebay banget sih!” kata Mila.
“Iya tuh anak miskin ngapain sekolah di sini?!” tambah Riska. Sedangkan Tiara melihatku dan Viona dari sana. Pandangan yang sinis. Aku segera memalingkan wajahku.
Setelah sampai di UKS, aku dan Bu Ningsih segera membaringkan Viona di ranjang. Aku segera mengambil minyak kayu putih, ku usapkan di tanganku dan ku letakkan tanganku di bawah hidung Viona agar aroma minyak kayu putih itu dihirupnya.
“Chacha, Ibu tinggalkan kamu dan Viona di sini ya. Jaga dia baik-baik. Ibu akan ke kelas untuk mengajar. Upacara sudah selesai.” pesan Bu Ningsih sambil tersenyum.
“Baik, Bu.” Jawabku.
Setengah jam kemudian, Viona sudah siuman. Aku segera memberikannya air putih hangat.
“Viona, akhirnya kamu siuman juga. Tadi kamu pingsan. Apakah tadi kamu tidak sarapan?” tanyaku.
“Belum. Soalnya aku terburu-buru.” jawabnya.
“Sebaiknya kamu sarapan dahulu.” kataku mengingatkan.
“Iya, iya Cha.” balasnya sambil mengangguk.
“Ya udah kita ke kelas yuk. Lagi pelajaran IPA tuh sama Bu Ningsih.” ajakku.
“Baiklah.” tukas Viona.
Ketika aku dan Viona tiba di kelas, pandangan Tiara tertuju ke arah Viona. Namun tidak ku pedulikan. Aku dan Viona pun duduk di bangku. Ku lihat Mila dan Riska tengah berbisik-bisik ke telinga Tiara. Rupanya mereka merencanakan sebuah jebakan untuk Viona. Aku harus tetap ada di dekat Viona dan waspada. Ketika istirahat tiba, aku dan Viona pergi ke kantin untuk membeli makanan. Tiba-tiba dari arah belakang Tiara, Mila, dan Riska mendorong Viona hingga dia terjatuh. Kemudian ketiganya tertawa puas.
“Aduuh… aww.. sakit!” rintih Viona kesakitan karena lututnya tergores tanah.
“Hey kalian bertiga! Jangan gitu dong! Sukanya mengejek dan mengerjainya Viona saja! Perbuatan itu berdosa dan tidak baik!” amarahku memuncak, tidak bisa ku tahan lagi.
Aku segera menolong Viona yang masih memegangi lututnya. Namun lukanya tidak parah. Hanya memerah saja.
“Biarinlah terserah kita! Viona si miskin itu nggak seharusnya ada di sekolah ini!” balas Riska. Tiara dan Mila mengangguk.
“Jangan menghina!” nasihatku. Aku tidak terima jika Viona direndahkan terus-menerus.
“Sudah Chacha! jangan marah-marah. Ayo kita ke kantin.” ajak Viona masih dengan senyum manisnya.
“Iya, Viona. Gak usah peduliin mereka” jawabku. Lalu aku dan Viona berlalu ke kantin meninggalkan mereka bertiga yang masih memandang sinis Viona.
Di kantin aku dan Viona memesan dua mangkok bakso. Aku bercakap-cakap sambil makan di meja makan.
“Viona, apa kamu tahan diejek dan dikerjain terus sama mereka bertiga?” tanyaku sambil menggigit bakso itu.
“Tak apa, Chacha. Jangan terlalu dipikirkan” sahutnya.
“Tapi aku gak tega kalau kamu digitukan terus” ucapku. Viona hanya tersenyum penuh makna.
Sepulang sekolah, aku bersama Viona berjalan kaki untuk pulang. Aku berusaha berhati-hati agar Viona tidak terkena jebakan geng Tiara itu. Benar saja, di jalan aku mendapati beberapa butir kelereng tersebar. Pasti kelereng itu untuk mencelakakan Viona agar dia terjatuh.
“Viona awas! di depanmu ada kelereng. Jangan diinjak! nanti kamu terpeleset!” teriakku.
“Iya iya. ” jawab Viona. Viona tidak jadi menginjaknya. Aku dan Viona pun berjalan kembali untuk pulang.
“Sialan! kenapa Viona gak nginjek kelereng itu sih?!” gerutu Tiara.
Esok paginya di sekolah, aku melaporkan semua kejadian-kejadian yang telah dilakukan oleh geng Tiara kepada Viona selama ini kepada kepala sekolah. Viona terlihat menunduk dengan wajah yang tidak bersalah.
“Baiklah akan Ibu nasihati agar mereka tidak mengulangi lagi.” kata Bu Anggi, kepala sekolah kami. Kemudian Bu Anggi memanggil ketiga anak itu dan menasihatinya di depan para guru. Mereka merasa menyesal sekali. Bu Ningsih menyuruh Tiara, Mila, dan Riska untuk meminta maaf kepada Viona.
“Kami minta maaf atas segala kesalahan kami kepadamu, Viona. Kami mohon maafkan kami.” isak Tiara mewakili Mila dan Riska.
“Iya aku maafkan.” jawab Viona.
Aku, Bu Anggi, para guru, dan semua teman-teman bertepuk tangan senang. Akhirnya aku dan Viona bersahabat dengan mereka bertiga. Sikap mereka 100 persen sudah berubah, bahkan selalu rendah hati terhadap siapa saja.
Selesai
INI ADALAH TAHUN BARU LAGI, APAKAH ANDA USAHA MAN / WANITA, A PEKERJA DI ORGANISASI, Wiraswasta? Membutuhkan pinjaman pribadi untuk bisnis tanpa stres, Jika demikian, hubungi kami hari ini, kami menawarkan pinjaman tahun baru pada tingkat bunga rendah dari 2%, Anda dapat memulai tahun baru dengan senyum di wajah Anda, keselamatan, kebahagiaan kami pelanggan adalah kekuatan kita. Jika Anda tertarik, mengisi formulir aplikasi pinjaman di bawah ini:
BalasHapusInformasi Peminjam:
Nama lengkap: _______________
Negara: __________________
Sex: ______________________
Umur: ______________________
Jumlah Pinjaman Dibutuhkan: _______
Durasi Pinjaman: ____________
Tujuan pinjaman: _____________
Nomor ponsel: ________
Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi kami sekarang melalui email: gloryloanfirm@gmail.com